Sebuah obrolan tentang agama muncul secara spontan di sebuah kedai minum di Jakarta sekitar lima tahun silam setelah pemutaran film berjudul Fire karya Deepa Mehta, sutradara India, pada 1997. Film ini kontroversial karena mengangkat kisah tokoh utama yang lesbian. Tapi bukan soal orientasi seksual itu yang menjadi tema pokok, melainkan soal penyebabnya. Dikisahkan, seorang janda yang lumpuh tinggal bersama dua anaknya, Asok dan Jatin. Asok, yang religius, menikahi Radha, yang mandul. Sedangkan Jatin, yang jatuh cinta kepada cewek keturunan Cina-India, terpaksa menikahi Sita, pilihan keluarganya. Di tengah mereka yang tinggal seatap, ada seorang pembantu bernama Mundu
Asok, yang menjadi pengikut tokoh agama Swamiji, menghabiskan waktunya untuk kehidupan spiritual. Jatin diam- diam masih sering mengencani mantan pacarnya. Radha dan Sita, yang kesepian karena selalu ditinggal suami masing-masing, saling jatuh hati dan mereguk kenikmatan sebagai pasangan lesbian tentu secara diam-diam. Namun rahasia itu akhirnya dikuak oleh Mundu, yang dipecat gara-gara suka menonton film porno. Api pun membakar kehidupan keluarga itu. Setelah menonton film tersebut, seorang penyair dan kolumnis berkomentar. Laki-laki dan agama memang brengsek, kata dia, dalam suasana spontan. Seseorang yang kebetulan duduk semeja tak sepakat soal kebrengsekan agama itu, namun soal kebrengsekan laki-laki ia tak berkomentar. Bukan agama yang brengsek, tapi penafsiran terhadap agama yang brengsek, kata si penimpal. Oh ya, agama memang selalu soal penafsiran, kata si kolumnis.
Di tengah ramai kontroversi tentang pembangunan masjid di dekat bekas gedung menara kembar World Trade Center, New York, terbit sebuah buku berjudul A World without Islam (Sebuah Dunia tanpa Islam) karya Graham E. Fuller, analis politik spesialisasi bidang ekstremisme Islam. Ia pernah bertugas untuk CIA di Kabul. Beberapa pokok pendapatnya, bahwa peristiwa menara kembar tetap mungkin terjadi, walaupun Islam tak ada; bahwa peristiwa tersebut harus dilihat dalam konteks konflik Timur-Barat dalam kaitan dengan sejarah imperialisme; bahwa asumsi basi Timur Tengah dengan Islam harus dipertimbangkan kembali; bahwa tak ada satu Islam , karena banyak Islam
Dunia tanpa Islam, yang digagas Fuller, tentu hanya penjelajahan imajinasi untuk mencari angle lain dari penyebab peristiwa menara kembar. Sekaligus Fuller memaparkan ragam tafsir dalam Islam. Karena itu, menuduh Islam sebagai penyebab peristiwa menara kembar adalah bentuk simplifikasi. Semoga mereka yang menolak pembangunan masjid di dekat Ground Zero membaca buku ini, sehingga mampu memandang Islam secara lebih jernih.
Title : Dunia tanpa Islam
Description : Sebuah obrolan tentang agama muncul secara spontan di sebuah kedai minum di Jakarta sekitar lima tahun silam setelah pemutaran film ber...